NOT of the Taciturn

I’m not sure what I’ll do, but— well, I want to go places and see people. I want my mind to grow. I want to live where things happen on a big scale.
- F. Scott Fitzgerald, The Ice Palace and Other Stories (via bookmania)
via bookmania / 22 hours ago / 1,930 notes /


1 day ago / 3 notes /
octaraisa:

fitriarahmaani:

refresty:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.
Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia
Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.
“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi”
“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”
“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”
Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.
Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.
Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.
Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.
Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.
Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.
Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.
Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.
Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. 
Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.
Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
 
Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.
Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.
Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

BigHug for SBY :*

Terima kasih, Pak Presiden :”)

octaraisa:

fitriarahmaani:

refresty:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.

Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia

Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.

“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi

“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”

“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”

Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.

Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.

Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.

Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.

Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.

Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.

Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.

Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.

Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.

Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.

 

Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.

Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.

Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

BigHug for SBY :*

Terima kasih, Pak Presiden :”)

via dianirmalaa / 1 day ago / 362 notes /

Loneliness is the human condition. Cultivate it. The way it tunnels into you allows your soul room to grow. Never expect to outgrow loneliness. Never hope to find people who will understand you, someone to fill that space. An intelligent, sensitive person is the exception, the very great exception. If you expect to find people who will understand you, you will grow murderous with disappointment. The best you’ll ever do is to understand yourself.
- Janet Fitch (via onlinecounsellingcollege)
via onlinecounsellingcollege / 1 day ago / 2,027 notes /

Biasa, Tidak Biasa

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang .
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. 
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam. 
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang”- Imam Syafi’i

Rasanya saat ini aku seperti air yang keruh karena tak mengalir, singa yang tak mendapatkan mangsa karena tak meninggalkan sarang, anak panah yang tak kena sasaran karena tak meninggalkan busur, dan matahari yang membosankan karena terdiam di orbitnya. Diam, tidak berjalan.

Aku tidak ingin menjadi biasa.
Hanya hidup dengan jalan hidup yang dinilai kebanyakan orang sebagai “jalan hidup terbaik”. Jalan yang menurutku terlalu membosankan. Dan aku masih bertahan di jalan itu, sampai detik ini.
Sungguh aku bosan! Jalan ini terlalu aman, nyaman. Bahkan rasanya aku bisa melihat garis finish dengan sangat jelas dari tempat aku berdiri saat ini.

"Menjadi dokter itu berbeda dengan menjadi profesi lain. Kamu hanya perlu mengikuti jalan yang sudah ada, tidak perlu mencari-cari jalan lain. Hanya perlu rajin, sabar, dan istiqamah maka jalan itu akan terlalui dengan mudah." kata orangtuaku, wejangan dua tahun lalu, sebelum aku masuk fakultas kedokteran ini.

Dan disinilah aku. Dikelilingi dengan teman-teman calon dokter idaman, yang setiap hari belajar belajar dan belajar tanpa lelah. Hanya itu. Hanya. Itu.

Kami kuliah 5 hari dalam seminggu, dengan jam kuliah model full-day. Masuk jam 7 pagi dan pulang jam 3 atau 4 sore. Hanya diselingi satu jam istirahat saat dhuhur. Jadi, kalau dihitung jam belajar kami di kampus 7-8 jam/hari. Yah, lebih tepatnya jam mendengar karena yang berbicara hanya dosen-dosen kami.

Rutinitas kami selalu sama. Bahkan untuk aku, seorang melankolis yang sangat tergila-gila dengan “sesuatu yang selalu ada pada tempat yang seharusnya” rutinitas ini mulai terasa sangat membosankan. Tidak ada banyak waktu untuk mengembangkan diri, misalnya untuk sekedar mengikuti forum-forum pemuda untuk bertukar pikiran, yang akan membuat pikiran ini akan lebih terbuka dan luas.
Aku iri, saat bertukar cerita dengan teman-temanku yang merantau. Mereka bercerita begitu senangnya mereka karena begitu banyak hal diluar kuliah yang bisa mereka lakukan. Mereka memiliki banyak waktu bertukar pikiran dan berinteraksi dengan orang-orang yang “berpikiran maju”. Mereka memiliki banyak waktu untuk mengembangkan diri. Benar kata Imam Syafi’i, merantau adalah cara yang baik untuk memperbaiki diri.

Dua tahun belakangan aku mencoba menikmati, karena aku sendiri yang memilih jalan ini. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu ini jalan yang tidak mudah.
Tapi menginjak tahun ketiga aku berada di fakultas kedokteran ini, aku merasa diriku tidak mengalami perkembangan yang signifikan dalam berpikir, dan bertindak. Aku merasa seperti stuck di tempat.
Banyak tanda tanya muncul di benakku.
Apa yang salah? Apa karena selama ini aku mengikuti jalan yang membosankan ini tanpa berpikir kritis? Sehingga aku hanya terus berjalan tanpa menanyakan terlebih dahulu ke hati kecilku “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Shab?”. Ya, sepertinya begitu.

Aku tidak ingin menjadi biasa, melewati jalan hidup yang biasa.
Aku tidak ingin hanya membaca ppt dosen pagi-siang-malam tanpa mengerti “ini asalnya dari mana”, memiliki pola pikir yang biasa, menjadi dokter yang biasa, dan tidak bisa memaksimalkan manfaat diriku untuk orang lain.
Begitu besar keinginan di dalam diriku ini untuk keluar dari zona nyaman ini. Saat ini aku sedang berhenti, mencari-cari jalan yang membuatku ingin berjuang melewatinya. 

Aku sadar, menjadi luar biasa tidak mudah.
Maka aku akan memulai dengan tapak-tapak kecil perubahan. Mungkin langkah pertamaku adaalah meningkatkan ‘openess’ dengan meluangkan waktu untuk membaca buku diluar bidangku. Mengubah pola pikir akan menjadi hal yang terberat kedepannya, dan cara termudah adalah memperkaya bacaan.
Dan sesungguhnya manusia itu lemah bila sendiri, karena kodrat manusia adalah makhluk sosial yang butuh orang lain. Semoga di masa depan aku menemukan teman yang sepikiran denganku, teman yang sama-sama lelah menjadi orang yang biasa. Sehingga kita bisa saling menguatkan untuk mengupgrade kemampuan.

Bismillah.
Melalui jalan apapun yang nantinya aku pilih, semoga Allah SWT tetap memberikan ridha-Nya. Doakan, semoga tidak salah jalan.

13 September 2014

Shabrina Avi Wulandari,
Mahasiswa tingkat tiga yang sedang berjuang menghadapi kebosanan.

Apa yang membuat orang sukses berbeda dengan orang biasa? Ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yatu -going the extra miles-. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang menyerah di detik ke 10, dia tidak akan menyerah sampai detik 20. Selalu berusaha meningkatkan diri lebih dari orang biasa. lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad, dan sebagainya dari orang lain maka kalian akan sukses
- Negeri 5 Menara - A. Fuadi
Cukup cintai dia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan. Memupuknya akan menambah penderitaan. Menumbuhkan harapan akan mengundang kekecewaan. Mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaithan.
Mungkin saja rasa ini adalah ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan. Serahkan.
Karena hati ini begitu mudah dibolak balikkan olehNya.
Dan bila ‘cinta dalam diam’mu tidak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, maka biarkan dia tetap diam.
Aku mencintaimu dalam diam, dengan isyarat yang tidak akan pernah tertangkap oleh indera.

Read as much as you can. Nothing will help you as much as reading.
- J. K. Rowling (via money-in-veins)
via psych-facts / 1 week ago / 28,534 notes /

Aku, sebagai calon ibu dan calon dokter

Entah sejak kapan isi otakku ini mulai bertransformasi. Sedikit demi sedikit mulai bermunculan pertanyaan-pertanyaan seputar menikah, suami, anak, dan masa depan. 

Dari sekian banyak pertanyaan yang muncul, terdapat satu pertanyaan yang membuatku gelisah, sampai detik ini.

Apa yang akan aku pilih di masa depan, menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier?

Pilihan yang sangat sulit mengingat kedua profesi itu sama pentingnya di mataku.

Pada pilihan yang pertama, menjadi ibu rumah tangga. Islam mengajarkan, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di mata Allah SWT. Namun, Allah SWT menciptakan perbedaan di antara keduanya, dimana laki-laki diberi kekuatan pikiran dan wanita diberi kepekaan rasa. Keduanya memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Rasulullah SAW bersabda:

“Suami pemimpin keluarganya dan ia akan ditanya kepemimpinannya, seorang istri pemimpin dalam rumah tangga dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari)

Sudah menjadi kodrat wanita untuk mengurus keluarga dan mendidik anak. Tentu kedua hal itu memerlukan perhatian ekstra dari seorang wanita.

Namun, kenyataannya saat ini aku sedang menempuh Pendidikan Dokter. Kenyataan ini mengantarkanku pada pilihan kedua, menjadi wanita karier, tepatnya seorang dokter. Menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain menempati urutan kedua dari daftar cita-cita duniaku setelah meninggal dengan khusnul khotimah, dan aku ingin mewujudkannya melalui profesi dokter. Impianku sejak kecil, impian yang akan menghabiskan setengah dari jatah umurku di dunia untuk mencapainya. 

Disamping itu, kedua orang tuaku ingin nantinya aku menjadi seorang istri yang tidak sepenuhnya bergantung pada suami, bisa mandiri. Karena setiap pernikahan tidak menjamin keharmonisan, kata mereka. Atau bisa saja suamiku meninggal lebih dulu, meninggalkan anak-anak kepadaku, kalau aku tidak bekerja pasti kesusahan, kata mereka lagi. Ya, tentu aku paham. Mereka hanya khawatir :)

Suatu ketika aku membicarakan hal ini lewat dunia maya dengan seorang akhwat yang begitu aku kagumi, seorang yang teguh dengan prinsipnya.

Aku : Mbak, pilih jadi ibu rumah tangga atau dokter?

Mbak : Aku tergantung keputusan calon suamiku nanti dek.

Aku : Kalau sumac mbak nanti meminta mbak untuk jadi ibu rumah tangga bagaimana? Apa mbak nggak nyesel membuang semua usaha keras mbak buat kuliah di FK ini? Apa mbak nggak kasihan sama orang tua yang kepingin anaknya jadi dokter dan sudah mengorbankan banyak materi buat itu? Kan semuanya jadi percuma mbak.

Mbak : Nggak ada yang percuma dek, walaupun nantinya hanya jadi ibu rumah tangga, wanita yang terdidik akan mendidik anak-anaknya menjadi calon orang-orang besar masa depan dan itu sangat besar nilainya di mata Allah. Lagipula, walaupun jadi wanita karier, tugas seorang wanita yang utama tetap mengurus keluarga dan mendidik anak. Sekali wanita melalaikan tugasnya itu, Allah pun tidak akan ridha pada pekerjaannya. Dan yang perlu diingat, setelah menikah kepatuhan kita kepada suami ada pada urutan pertama disusul dengan kepatuhan pada orang tua.

Tentu saja semua perkataannya tidak ada yang salah, aku setuju sepenuhnya. Tapi rasanya sesuatu tetap mengganjal hatiku, aku belum puas dengan solusi itu.

Dan sepertinya Allah SWT memberiku jawaban. Jawaban itu ternyata dekat sekali denganku, setiap hari ada di sekelilingku.

Jawaban itu adalah… mamaku :)

Mamaku adalah seorang wanita yang begitu mengesankan. Masa-masa remajanya benar-benar penuh prestasi. Tidak pernah absen dari ranking 5 besar dari SD hingga SMA, rajin ikut pramuka -yang katanya bisa bikin mama mandiri- bahkan sampai jambore nasional, organisatoris yang supel, dan dari ceritanya setiap malam minggu lebih dari 5 laki-laki apel ke rumah kakek.

Mama memang tidak bisa masak, tapi tidak pernah lupa membuatkan teh untuk papa dan susu untuk aku dan adikku setiap pagi. Mama selalu pulang malam, tapi selalu rajin membuka pintu kamarku untuk mengecek kabarku hari ini. Mama hapal betul jadwal keseharianku dan adikku. Mama selalu menyiapkan papa makan dan bertanya dengan hangat “Papa mau makan apa?”. Mama sangat peduli dengan kami, keluarganya. Dan aku sama sekali tidak merasa ditinggalkan walaupun mama tidak selalu di rumah.

Pertanyaan besarku sudah memiliki jawaban. Aku ingin menjadi seperti mama. Aku masih ingin memperjuangkan mimpiku, menjadi dokter namun tetap mengutamakan keluarga. Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi… Kalau ada niat pasti ada jalan, kan? :)

Dan semoga kamu pun memberikan restumu, calon imamku :’)

Semoga kita berdua selalu berusaha memperbaiki diri :)

Shabrina Avi Wulandari,

7 September 2014

1 week ago / 5 notes / mimpi,
 
Next »





Page 1 of 87
Theme by maggie. Runs on Tumblr.